Pahlawan Tanah Suwakan Bayah

Pahlawan Tanah Suwakan Bayah

Bupati Lebak saat memimpin upacara dalam rangka Hari Pahlawan di Desa Suwakan  Kecamatan Bayah

Bupati Lebak  memimpin upacara dalam rangka Hari Pahlawan di Desa Suwakan Kecamatan Bayah


LEBAK,-
Tanah becek karena guyuran hujan tidak menurunkan semangat masyarakat Desa Suwakan untuk melaksanakan upacara dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2016. Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya bertindak langsung sebagai pembina upacara kenaikan bendera merah putih di Desa Suwakan Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak menambah antusias kegembiraan masyarakat, dalam upacara yang dipimpin oleh Danramil Bayah Kapten Inf Asmail tersebut dihadiri juga oleh berbagai elemen masyarakat. Sebelum menyampaikan sambutan menteri sosial Republik Indonesia, bupati memberikan motivasi kepada peserta upacara dan masyarakat yang turut serta menyaksikan upacara.

“Kita jangan pesimis karena rumah kita jauh dari gemerlapnya kota, justru banyak orang sukses berasal dari desa desa terpencil, tetaplah optimis jangan berhenti untuk berkarya” ujar bupati.

Kegembiraan yg diselimuti rasa haru menyambut kedatangan bupati lebak yang langsung mengantarkannya ke tempat bersejarah yang rencananya akan dibangun tugu pahlawan kemudian dilangsungkan doa bersama agar para pahlawan mendapatkan Rahmat-Nya. Pembacaan puisi, atraksi pencak silat dan seni bela diri debus oleh warga Desa Suwakan menambah suasana upacara menjadi meriah. kemudian dilanjutkan ziarah kubur ke makam para pahlawan mengakhiri rangkaian kunjungan bupati lebak.

Mengapa dalam memperingati hari pahlawan setiap tanggal 10 november di desa suwakan kecamatan bayah ini dilaksanakan dengan meriah dan hidmat? dan disebut sebagai kampung pahlawan?

Kepala Desa Suwakan Ade, secara singkat menceritakan kronologis tragedi pembantaian yang dilakukan oleh penjajah belanda terhadap kepala desa, tokoh masyarakat, dan masyarakat lainnya pada bulan desember 1948.

Dengan adanya agresi militer Belanda ke- 2 masuk ke Indonesia, desa suwakan pun ikut diduduki pada senin malam kurang lebih pukul 23:30 wib, saat itu datang Endi dan Odih yang berasal dari Kampung Cicadas Kabupaten Sukabumi yang bermaksud mencari sesuap nasi, selain mereka datang pula Madsuha alias Ueng dengan tujian yang sama hanya sekedar mencari sesuap nasi. tidak lama kemudian datang lagi dua Tentara Indonesia yang bernama Hudori dan Sulasdi dibantu domanikus tentara Indonesia juga yang mengaku anak buah Jenderal Sudirman. Kemudian tentara Belanda melakukan perjalanan menggunakan truk dari cikotok ke Bayah, ditengah perjalanan tepatnya di daerah Gunung Curi truk yg dtumpangi tentara belanda dilempari granat oleh tentara Indonesia yg tinggal dikampung suwakan tetapi granat tersebut tidak meledak.

setelah kejadian itu tentara belanda memanggil Madsuha alias Ueng dan menanyakan nama kepala desa dan tokoh masyarakat suwakan, setelah mendapatkan informasi tentara belanda menciduk satu persatu dikumpulkan disuatu tempat dipinggir sungai cimadur tepatnya sekarang milik Bpk Gopur atau dipinggir mesjid alkautsar sekarang. Ade juga menyebutkan nama-nama yang dibunuh dengan keji diantaranya Askam bin Asirun kepala desa pada waktu itu, Dulmatan bin Asirun tokoh masyarakat dan tiga orang tentara Indonesia serta tujuh orang masyarakat lainnya. begitulah Ade menceritakannya sambil meneteskan air mata. (kek.hms)

social position

Share this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE